Comments

______________________________________________________________________________
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Mendidik Anak Dalam Islam?

Written By Yang kai on Minggu, 18 Desember 2016 | 05.45

Pendidikan yang baik adalah dengan menanamkan akhlaq yang baik secara kuat dan kokoh ke dalam jiwa anak, sehingga ia mampu menolak syahwat yang jelek, dan menjadikan jiwanya tidak akan merasa nyaman kecuali dengan hal-hal yang baik


Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid
Pertanyaan:
Saya memohon nasehat Anda tentang bagaimana cara meningkatkan akhlaq dan cara mengasuh anak-anak saya agar memiliki akhlaq yang baik. Saya mendengar banyak nasehat dari para ulama bahwa anak-anak seharusnya tinggal dan belajar di bawah bimbingan ulama selama beberapa waktu agar bisa mempelajari akhlaq yang baik. Saat ini saya sangat khawatir terhadap akhlaq anak-anak saya karena kami tinggal di lingkungan yang buruk, dan akhlaq masyarakat di lingkungan kami sangat rendah, yang mana tidak menunjang peningkatan akhlaq yang baik. Saya belum lama masuk Islam, sehingga saya tidak memiliki ilmu yang cukup untuk meningkatkan akhlaq saya ataupun anak-anak saya. Mereka sangat suka menonton TV dan bergaul dengan kerabat-kerabat dan teman-teman yang menularkan akhlaq-akhlaq yang jelek. Sampai-sampai, meskipun kami selalu berupaya mengajari mereka akhlaq yang baik, namun contoh jelek dari masyarakat dan teman-temannya lebih berpengaruh kepada mereka. Saya bingung  apakah saya harus terus berusaha untuk tetap sabar dan mengingatkan mereka dengan lembut, atau saya harus bersikap keras untuk mengajari mereka akhlaq yang baik.
Jawaban:
Segala puji bagi Allah. Kami mengucapkan selamat kepada Anda untuk nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada Anda berupa hidayah untuk masuk Islam, dan kami memohon kepada Allah Ta’alaa agar meneguhkan kami dan Anda dalam mengikuti agama ini sampai kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan Dia ridha kepada kita. Kami juga mengucapkan selamat kepada Anda kerena semangat Anda dalam memberikan anak-anak Anda pendidikan yang baik.
Kemudian jawaban dari pertanyaan Anda, kami menunjukkan beberapa hal penting dengan harapan dapat membantu Anda, dengan taufik Allah Ta’alaa, untuk mencapai apa yang Anda inginkan.
Pertama:
Kami harus mengingatkan Anda bahwa, umumnya, akhlaq yang jelek itu sesuai dengan syahwat dan hawa nafsu seseorang; sehingga seorang anak akan melakukannya tanpa perlu disuruh atau susah-susah. Sebaliknya, akhlaq yang baik itu membutuhkan latihan bagi jiwa serta pengendalian dari syahwat, yang merusak dan merugikan jiwa. Akhlaq yang baik berarti mengikuti jalan yang bertentangan dengan hawa nafsu, sehingga merupakan suatu proses yang membutuhkan usaha dan perjuangan.
Pendidikan yang baik adalah dengan menanamkan akhlaq yang baik secara kuat dan kokoh ke dalam jiwa anak, sehingga ia mampu menolak syahwat yang jelek, dan menjadikan jiwanya tidak akan merasa nyaman kecuali dengan hal-hal yang baik, dan jiwanya akan membenci apa pun yang bertentangan dengan akhlaq yang baik. Sehingga anak akan menerima akhlaq yang baik, dan mencintai akhlak tersebut. Cinta tidak dapat ditanamkan dengan cara kekerasan; melainkan membutuhkan hal-hal berikut:

1. Kelembutan

Terdapat sejumlah hadits Nabi yang mengajarkan kita untuk menggunakan kelembutan saat berinteraksi dengan orang lain, seperti berikut:
ุนู† ุนَุงุฆِุดَุฉَ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡َุง ุฒَูˆْุฌ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َุชْ ู‚ุงู„ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ : ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠُุญِุจُّ ุงู„ุฑِّูْู‚َ ูِูŠ ุงู„ุฃَู…ْุฑِ ูƒُู„ِّู‡ِ ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ6024
“Dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai beliau, berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, 6024).
ูˆุฑูˆู‰ ู…ุณู„ู… (2592) ุนَู†ْ ุฌَุฑِูŠุฑٍ ، ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ: ( ู…َู†ْ ูŠُุญْุฑَู…ِ ุงู„ุฑِّูْู‚َ ، ูŠُุญْุฑَู…ِ ุงู„ْุฎَูŠْุฑَ
“Muslim (2592) meriwayatkan dari Jarir bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang terhalangi dari kelembutan, maka dia akan terhalangi dari kebaikan.’”
ูˆุนَู†ْ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ، ุฒَูˆْุฌِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ، ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ ุฅِู†َّ ุงู„ุฑِّูْู‚َ ู„ุงَ ูŠَูƒُูˆู†ُ ูِูŠ ุดูŠุก ุฅِู„ุงَّ ุฒَุงู†َู‡ُ ، ูˆَู„ุงَ ูŠُู†ْุฒَุนُ ู…ِู†ْ ุดูŠุก ุฅِู„ุงَّ ุดَุงู†َู‡ُ ) ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู… (2594
Dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai beliau, berkata, ‘Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kelembutan, tidaklah berada pada sesuatu kecuali pasti menghiasinya, dan tidaklah kelembutan diambil dari sesuatu, pasti merusaknya.’”
ูˆุนَู†ْ ุนَุงุฆِุดَุฉَ : ุฃَู†َّู‡َุง ู‚َุงู„َุชْ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ุจِุฃَู‡ْู„ِ ุจَูŠْุชٍ ุฎَูŠْุฑًุงุฃَุฏْุฎَู„َ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงู„ุฑِّูْู‚َ. ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ ููŠ ู…ุณู†ุฏู‡ (24427) ، ูˆุตุญุญู‡ ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ ููŠ ” ุตุญูŠุญ ุงู„ุฌุงู…ุน ุงู„ุตุบูŠุฑ ” ุฑู‚ู… (303)
“Dari ‘Aisyah semoga Allah meridhai beliau bahwa dia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jika Allah ‘azza wa jalla menginginkan kebaikan bagi anggota rumah tangga, Dia akan memasukkan kelembutan kepada mereka’ (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (24427); yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami ‘as-Shaghir (303)).
Di antara tabiat anak-anak adalah mereka mencintai orang tua yang lemah lembut kepada mereka, membantu mereka, dan yang perhatian kepada mereka, sebisa mungkin tanpa teriak dan amarah; bahkan dengan penuh hikmah dan kesabaran. Anak usia dini membutuhkan hiburan dan permainan; sebagaimana juga usia dini adalah usia yang tepat untuk menanamkan adab-adab dan pendidikan yang baik. Oleh karena itu, orang tua harus mampu menyeimbangkan antara keduanya.
Saat anak-anak mencintai orang tua yang penuh kelembutan, maka cintanya ini akan memotivasi mereka dengan kuat untuk menaati orang tuanya. Sebaliknya, tidak adanya kelembutan pada orang tua, bahkan adanya kekerasan, akan menyebabkan anak menjauh, yang pada gilirannya akan menyebabkan keras kepala dan ketidaktaatan, atau menyebabkan ketakutan yang akan menumbuhkan sifat dusta dan tipu daya pada diri anak kepada orang tua.

2. Kelembutan tidak berarti meniadakan hukuman pada saat diperlukan.

Namun, perlu dicatat bahwa hukuman, ketika membesarkan anak-anak, harus digunakan secara bijak. Tidak benar jika anak selalu dihukum untuk setiap pelanggaran yang dilakukan. Hukuman diterapkan saat kelembutan tidak lagi berpengaruh, dan ketika nasehat, perintah dan larangan telah diabaikan.
Kemudian, hukuman juga harus memberikan manfaat. Misalnya, Anda memiliki masalah pada kebiasaan anak-anak Anda menghabiskan waktu yang lama di depan televisi, maka Anda dapat membatasi program yang mereka tonton, yakni yang bermanfaat dan tidak membahayakan secara umum, dan bebas dari perkara mungkar sebisa mungkin. Jika mereka melampaui waktu tonton yang telah ditentukan, Anda dapat menghukum mereka dengan melarang mereka menonton televisi selama satu hari penuh. Suatu ketika mereka melanggar lagi, maka Anda dapat melarang mereka dari menonton televisi untuk jangka waktu yang lebih lama, sesuai dengan tujuan kebaikan yang hendak digapai dan manfaat dalam pendidikan adab dan budi pekerti.

3. Memberikan contoh yang baik.

Orang tua harus memiliki akhlaq yang baik terlebih dahulu, sebelum mengajari anaknya berakhlaq baik. Sebagai contoh, tidak tepat jika seorang ayah melarang anaknya merokok padahal dia sendiri merokok.
Salah seorang ulama mengatakan kepada guru anak-anaknya, “Hal pertama yang harus Anda lakukan untuk mendidik keshalihan anak-anak saya adalah membuat diri Anda sendiri menjadi shalih. Karena kesalahan mereka adalah bentuk mencontoh dari kesalahan Anda; Hanya perbuatan baik saja yang harus Anda lakukan dan tinggalkanlah perbuatan yang jelek di hadapan mereka” (Tariikh Dimasyq, 38 / 271-272).

4. Menerapkan lingkungan yang baik.

Lingkungan yang baik adalah lingkungan di mana perbuatan baik dipuji dan pelakunya dimuliakan, sedangkan perbuatan buruk dan pelakunya dicela. Saat ini, lingkungan seperti ini sangat jarang kita temui. Namun, dengan usaha keras dan sungguh-sungguh secara fisik, psikologis dan finansial, insyaAllah kita mampu untuk membuatnya.
Misalnya, jika terdapat sebuah keluarga muslim yang tinggal di lingkungan di mana tidak ada keluarga muslim lainnya, keluarga ini harus berusaha keras untuk pindah ke lingkungan atau kota di mana terdapat banyak muslim, atau lingkungan di mana terdapat masjid atau pusat kegiatan Islam yang aktif dalam menjalankan program-program untuk anak-anak muslim.
Contoh lain, jika seorang anak tertarik dalam olahraga tertentu atau aktivitas lainnya, orang tua bisa mencarikan klub olahraga atau organisasi serupa yang cocok, yang dikelola oleh muslim yang berkomitmen pada syariat Islam, yang diikuti oleh keluarga-keluarga muslim yang bersemangat untuk memberikan anak-anak mereka pendidikan yang baik dalam seluruh perkara. Interaksi satu sama lain sangat memberikan pengaruh besar, seperti yang Anda katakana. Sehingga, cobalah untuk mengurangi efek negatif yang Anda lihat sebagai hasil dari interaksi tersebut, dengan mengatur interaksi yang positif dengan keluarga muslim.
Jika orang tua mampu mengeluarkan uang untuk pakaian bagus, makanan lezat, dan rumah yang nyaman, mereka juga harus bersedia mengeluarkan uangnya dalam usaha untuk memperoleh akhlaq yang baik, dengan mengharap pahala dari Allah Ta’alaa dengan hal tersebut.
Kedua:
Wajib bagi Anda untuk senantiasa memanjatkan doa tanpa henti, terutama pada waktu-waktu mustajab, seperti saat sepertiga malam terakhir, saat sujud, dan pada hari Jumat. Perbanyaklah meminta kepada-Nya agar menjadikan anak-anak Anda menjadi anak-anak yang shalih dan agar membimbing mereka ke jalan yang lurus. Berdoa untuk kebaikan anak adalah salah satu ciri hamba Allah yang shalih. Allah berfirman:
ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุฑَุจَّู†َุง ู‡َุจْ ู„َู†َุง ู…ِู†ْ ุฃَุฒْูˆَุงุฌِู†َุง ูˆَุฐُุฑِّูŠَّุงุชِู†َุง ู‚ُุฑَّุฉَ ุฃَุนْูŠُู†ٍ ูˆَุงุฌْุนَู„ْู†َุง ู„ِู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠู†َ ุฅِู…َุงู…ًุง ุงู„ูุฑู‚ุงู† ( 74)
Dan (hamba-hamba Ar Rahman adalah) mereka yang mengatakan:” Ya Tuhan kami! Anugerahkan kepada kami, istri-istri dan keturunan kami yang akan menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin untuk orang-orang yang bertakwa” (Al-Furqaan 25:74).
Syaikh ‘Abd ar-Rahman as-Sa’di, semoga Allah merahmatinya, berkata, “penyejuk mata” artinya sumber kebahagian bagi kami.
Jika kita mempelajari karakteristik dari mereka (yang memanjatkan doa ini), kita akan ketahui bahwa di antara indikasi kuatnya kehendak baik dan tingginya martabat mereka adalah mereka tidak akan bahagia sampai mereka melihat istri dan keturunan mereka menaati Tuhan mereka, berilmu dan mengamalkan ilmunya. Dan doa untuk keshalihan istri dan anak-anak juga merupakan doa untuk diri mereka sendiri, karena manfaatnya akan kembali kepada mereka juga. Oleh karena itu, mereka menganggap hal tersebut sebagai bentuk karunia (Allah) kepada mereka. Mereka berkata “Anugerahkan kepada kami”, bahkan sebenarnya doa mereka tidak hanya membawa manfaat untuk mereka, namun juga bagi semua umat Islam, karena keshalihan satu orang akan menyebabkan shalihnya orang-orang di sekelilingnya, dan akan memberikan manfaat bagi mereka” (Taisiirul kariimil mannaan fi tafsiri kalaamir rahmaan, 587).
Kami menganjurkan bagi Anda untuk menelaah fatwa penting no. 4237 dan 10016.
Dan Allah Maha Mengetahui.
***
Penerjemah: Adid Adep Dwiatmoko
Artikel Muslimah.or.id

Sebab-Sebab Anak Durhaka

Banyak faktor yang menyebabkan anak melakukan kedurhakaan kepada orang tuanya, di antaranya poin-poin berikut ini


Sebab-sebab Anak Durhaka
Banyak faktor yang menyebabkan anak melakukan kedurhakaan kepada orang tuanya, di antaranya:
1. Kebodohan
Kebodohan adalah penyakit yang mematikan, dan orang bodoh adalah musuh bagi dirinya sendiri. Apabila seseorang tidak mengetahui akibat dari kedurhakaan dan hasil yang diperoleh dari berbakti kepada kedua orang tua, baik secara langsung ataupun tidak langsung, maka hal itu akan membawa seseorang kepada kedurhakaan dan memalingkan dari berbakti.
2. Pendidikan Buruk
Orang tua yang tidak mendidik anak-anaknya agar bertakwa, berbakti, menyambung silaturrahim, dan mencari kemuliaan, maka hal itu akan membawa mereka kepada sikap membangkang dan durhaka.
3. Adanya pertentangan
Kedua orang tua mengajarkan sesuatu kepada anak-anaknya, akan tetapi keduanya tidak mengamalkan apa yang telah mereka ajarkan, bahkan terkadang keduanya melakukan hal yang bertentangan dengan hal itu. Perkara ini akan memancing sang anak untuk melakukan pembangkangan dan kedurhakaan.
4. Memperlakukan anak-anak secara buruk
Perbuatan inilah yang akan merusak anak-anak dan menjadikan mereka berbuat durhaka. Begitu juga hal itu akan menjatuhkan martabat orang tua dan melemahkan pengaruh keduanya dalam mendidik anak.
5. Kedurhakaan orang tua kepada ibu-bapaknya
Hal ini merupakan salah satu sebab terjadinya kedurhakaan kepada orang tua. Apabila orang tua durhaka kepada ibu-bapaknya (kakek dan nenek sang anak –ed), niscaya keduanya akan dihukum dengan kedurhakaan anak-anak mereka kepadanya. Hal ini sering terjadi karena dua faktor:
  1. Karena anak-anak akan meniru orang tuanya dalam berbuat durhaka
  2. Balasan diberikan sesuai dengan jenis amalannya.
6. Minimnya ketakwaan kepada Allah tatkala terjadi perceraian
Ada sebagian orang tua apabila mengalami perceraian, maka keduanya tidak bertakwa kepada Allah Ta’ala, sehingga perceraian antara keduanya pun terjadi dengan cara tidak baik.
Akan tetapi, yang Anda temui, bahwa masing-masing dari keduanya (bapak-ibu, -ed) akan menjelek-jelekan satu sama lain di hadapan anak-anaknya. Jika anak-anak pergi menemui sang ibu, maka sang ibu akan menyebutkan keburukan ayahnya, lalu mulailah dia mengajak untuk membenci dan menjauhi ayahnya. Begitu juga jika sang anak-anak pergi menemui sang ayah, maka sang ayah akan berbuat sebagaimana apa yang diperbuat ibunya.
Akibatnya, anak-anak akan durhaka kepada kedua orang tuanya. Penyebabnya adalah kedua orang tua itu sendiri, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Abu Dzuab Al-Hadzli:
 Janganlah engkau marah terhadap suatu perbuatan yang engkau juga ikut melakukannya,
Sesungguhnya orang yang layak mendapatkan keridhaan adalah orang yang mengamalkan sunnah.
Diketik ulang dari buku “Relakah Anakmu Durhaka?” karya Hamad Hasan dan Muhammad bin Ibrahim

Berlian dalam Tumpukan Jerami


Agama merupakan benteng kokoh yang mampu menghindarkan seorang mukmin dari perilaku penyimpangan yang dimurkai Allah



Apa yang ada di benak pembaca sekalian, jika diminta mengira-ngir, tentang apa yang dilakukan seorang anak atau remaja ketika tengah “online” di warnet ? Refreshing, main game, atau chatting barangkali ?
Seorang praktisi pendidikan dan pengelola home schooling di Yogyakarta pernah mengungkapkan keterkejutannya yang luar biasa saat pengelola sebuah warnet membuka rahasia besar, banyak ditemukan sperma berceceran di warnetnya. Timbul kecurigaan, sedahsyat apa tontonan yang mereka nikmati hingga hasrat seks seorang remaja memuncak, “matang” sebelum saatnya.
Generasi muda ibarat berlian yang bersinar penuh keindahan dan kekuatan. Dia begitu berbahaya tiada terkira, jika terarahkan dengan baik. Apa kiranya yang terjadi ketika berlian-berlian itu tergeletak begitu saja diatas tumpukan jerami ?!
Kita tidak tahu bagaimana perjalanan mereka 20 atau 30 tahun mendatang, mengingat saat ini gelombang fitnah ahli zaman telah merasuki semua sisi kehidupan. Dan problema besar di dunia, diantaranya adalah persoalan yang berkaitan dengan seksualitas.

Perlukah Pendidikan Seks ?
Informasi tak bertanggung jawab baik dari media massa  atau elektronik seputar seks begitu mudah ditemukan; pornografi, kehamilan diluar nikah, seks bebas, pelecehan seksualitas hingga virus HIV/ AIDS  merupakan suatu hal yag membuat banyak kalangan prihatin. Separah itukah moralitas para remaja bahkan anak-anak hingga mereka menganggap semua perilaku amoral itu sebagai kewajaran, bukan aib?
Mereka begitu familiar dengan istilah-istilah love, seks atau dating. Parahnya lagi tanpa pemahaman agama Islam yang kokoh hingga dengan mudahnya mereka terpengaruh. Provokasi dari berbagai media yang terkadang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Seorang Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi pernah menyatakan bahwa anak-anak perlu mendapatkan pendidikan seksual sejak dini yang disesuaikan dengan tahapan usia dan perkembangan anak, hal ini sangat penting sekali di tengah-tengah adanya orang-orang tak bertanggung jawab yang mengincar anak-anak di sekeliling mereka.

Seks dalam Koridor Islam
Islam secara bijak dan santun memaparkan tahapan-tahapan yang bagus agar sejak dini anak membiasakan berperilaku lurus sesuai fitrahnya. Perlunya pemahaman kepada anak secara konkrit, seperti, “Mas itu laki-laki, harus berpakaian model laki-laki dan adik itu wanita berbeda dengan laki-laki , model pakaiannya berbeda, dan pakai anting-anting!”.
Semenjak kecil, sang anak mulai diperkenalkan adab-adab Islam  berkaitan dengan menutup aurat, menjaga pandangan dan meminta izin jika memasuki kamar orang tuanya sebagaimana dalam Al-Qur’an surat An-Nur : 58 yang menjelaskan bahwa anak yang belum baligh diperintahkan untuk meminta izin dalam 3 waktu, yaitu sebelum shalat subuh, ditengah hari dan sesudah sholat Isya’. Ketika usia baligh maka izin dilakukan disetiap waktu ( Q.S. An-Nur 59 ).
Selain itu memisahkan tempat tidur saat berusia 10 tahun sebagai antisipasi timbulnya syahwat.
Dan kewajiban orang tua adalah menjelaskan tanda-tanda  seorang anak telah baligh, menghindarkan mereka dari media dan teman yang buruk akhlaknya. Mengusahakan agar terhindar dari ikhtilat bercampur baur dengan lawan jenis seperti saat bermain, atau bersekolah.
Ketika menjelang baligh atau bahkan telah sampai masa pubertas penanaman nilai-nilai Islam harus lebih intensif  libatkan mereka dalam kajian fiqih seperti tata cara wudhu, tata cara mandi, maupun tata cara bersuci. Persoalan hubungan suami istri baru dijelaskan secara lebih intensif ketika menjelang pernikahan saat secara emosi dan spiritual telah matang.
Dengan dasar pemahaman agama yang kokoh berdasarkan Kitabullah dan As-Sunnah, kemudian pengawasan maupun komunikasi yang harmonis antara anak dengan orang tua, diharapkan anak akan mendapatkan tarbiyatul jinsiyah (pendidikan jasmani) yang lebih Islami, selaras dengan perkembangan usia hingga ketika memasuki gerbang pernikahan ia telah memiliki bekal yang cukup dan diharapkan rumah tangganya akan sakinah, mawaddah dan penuh rahmat-Nya.
Dan agama merupakan benteng kokoh yang mampu menghindarkan seorang mukmin dari perilaku penyimpangan yang dimurkai Allah, seperti pacaran, kehamilan diluar nikah, homoseksualitas,, lesbianisme, dan lain sebagainya.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah
Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah
Referensi : islamqa.com
 
Support : BMH Situbondo | PD Hidayatullah Situbondo | LPI Al-Amin
Copyright © 2014. Mujahadah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger